Sejarah Seni Visual Yang Ada di Indonesia

Sejarah Seni Visual Yang Ada di Indonesia – Seni visual merupakan cabang seni yang memiliki sejarah yang panjang. Awalnya, diketahui bahwa nenek moyang manusia telah meninggalkan jejak pada dinding-dinding gua sebagai penggambaran bagian-bagian penting kehidupan.

Keterkaitannya dengan sejarah seni visual Indonesia, dapat dilihat pada gambar cap-cap tangan yang ditemukan di Goa Leang-Leang Maros (Sulawesi Selatan). Lukisan pada goa tersebut diperkirakan sudah berumur 4.000 tahun.

Sejarah Seni Visual di Indonesia

Di goa tersebut, selain cap-cap tangan objek seni visual yang sering dihadirkan adalah manusia dan binatang. Tidak terkecuali objek-objek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Tentunya bentuk yang di gambar tak selalu mirip dengan aslinya.

Mungkin benar jika dikatakan bahwa seni sama tuanya dengan kehidupan manusia. Pada mulanya kebutuhan manusia terhadap seni adalah sebagai sarana mencari kekuatan di luar diri manusia yang bersifat magis, sakral dan religius. joker388

Periode Seni Visual Indonesia Prasejarah

Pada zaman prasejarah, zaman ketika masih tidak diketahuinya sumber ataupun dokumen tertulis mengenai kehidupan manusia, cikal bakal kebudayaan Indonesia teramat erat kaitannya dengan Bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda. https://pafikebasen.org/

Pada waktu itu budaya hadir dan dikaitkan dengan sistem kepercayaan masa itu, yakni Animisme dan Dinamisme. Adapun kesenian tercipta adalah sebagai media upacara yang bersifat simbolisme.

Karya seni visual prasejarah mulai tampak tanda-tandanya pada seni bangunan dan seni lukis di zaman Mesolitikum atau Zaman Batu Madya. Zaman tersebut menjadi periode perkembangan teknologi manusia.

Sedangkan, antara Paleolitik atau Zaman Batu Tua dan Neolitik atau Zaman Batu Muda, manusia telah memiliki tempat tinggal. Di Indonesia sendiri bisa dilihat jejaknya di goa-goa di Sulawesi Selatan dan Irian Jaya. Disana manusia Indonesia telah meninggalkan jejak pada dinding-dinding goa berupa gambar dan cap-cap tangan mereka.

Pada Zaman Neolitikum bisa dilihat karya seni visual patung penggambaran leluhur yang dibuat dari batu dan kayu. Kemudian pada zaman Megalitikum manusia telah banyak menciptakan bangunan-bangunan dari batu yang berukuran besar untuk kegiatan upacara agama, seperti punden, dolmen, sarkofag, meja batu dll.

Periode Seni Visual Indonesia Klasik

Zaman Klasik dibagi menjadi dua yaitu Klasik Tua (Abad ke 8-10M) dan Klasik Muda (Abad 11-15M). Zaman klasik adalah zaman dimana masyarakatnya telah menghasilkan tonggak-toggak peradaban pertama sebagai dasar perkembangan peradaban selanjutnya.

Di zaman ini pula terdapat banyak kaidah, aturan, konsep atau norma budaya yang berkembang dan tetap digunakan hingga sekarang. Periode perkembangan agama Hindu-Budha di Nusantara adalah periode yang dinamakan dengan Zaman Klasik Indonesia

Seni visual pada zaman ini, berawal saat masuknya pengaruh Hindu-Saiwa dan Budha Mahayana ke dalam masyarakat Jawa kuno. Seiring perkembangan kedua agama yang berasal dari India tersebut menghasilkan berbagai bentuk kesenian.

Beberapa yang masih bertahan hingga saat ini adalah karya berupa arca, relief dan sangat terlihat dalam bidang arsitektur bangunan candi. Umumnya, candi-candi yang terdapat di Indonesia dibedakan menjadi Candi Hindu dan Candi Buddha.

Candi Hindu memiliki gaya India Selatan, contohnya adalah candi Syiwa Lara Jonggrang di Jawa Tengah. Candi tersebut menggambarkan penafsiran setempat yang terperinci tentang lokasi pemujaan agama Hindu yang menunjukkan ciri Syiwaisme.

Candi Buddha yang seperti terlihat pada bangunan candi Borobudur, tidak ada hubungan gaya dengan India. Borobudur terdiri atas sepuluh tingkat konsentris. Enam tingkat paling bawah dirancang sebuah bidang persegi, sementara empat tingkat di atasnya merupakan stupa utama berbentuk lingkaran.

Periode Seni Visual Indonesia Islam

Seni visual Islam adalah produk seni visual yang berkembang pada masa permulaan hingga akhir keemasan Islam. Rentang ini bisa didefinisikan meliputi Jazirah Arab, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Eropa sejak mulai hadirnya Islam pada 571 M hingga kemunduran kekuasaan Turki Ottoman. Meskipun sebenarnya Islam dan keseniannya menyebar jauh lebih luas daripada itu dan masih bertahan sampai sekarang.

Seni visual Islam memiliki kekhususan dibanding dengan seni visual yang dikenal pada masa kini. Walau begitu, perannya sangat besar bagi perkembangan seni visual modern. Salah satunya antara lain munculnya unsur kontemporer (abstraksi dan filsafat keindahan), selain itu juga memberi inspirasi pengolahan kaligrafi menjadi motif hias.

Dekorasi di seni visual Islam lebih banyak menutupi sifat asli medium arsitektur dibandingkan dengan yang banyak ditemukan pada masa sekarang. Dekorasi ini dikenal dengan sebutan Arabesque.

Sejalan dengan masuknya Agama Islam ke Indonesia. Seni visual Islam berperan terhadap seni visual Indonesia, sebut saja Pahatan Kubur dan Masjid. Telah juga ditemukan beberapa makam Islam tertua menggunakan nisan bergaya islam. Batu nisan Hujarat dapat dijumpai di Samudera Pasai dan Gresik.

Arsitektur masjid Indonesia pun berbeda dengan yang ditemukan di negara Islam lainnya. Masjid lama dibangun dengan mengikuti prinsip dasar bangunan kayu, dan disertai dengan pembangunan pendopo di bagian depan. Selain itu juga memiliki atap tumpang yang memberi ventilasi, dan disangga dengan deretan tiang kayu.

Masjid-masjid tersebut terdapat di Cirebon, Banten, Demak, dan Kudus. Bagian dalamnya dihiasi pola bunga, satwa, dan bangun berulang. Letak piring-piring China, Vietnam, dan Thailand digunakan untuk menyamakan lantai berwarna yang ditemukan di masjid Timur Tengah dan Moghul, India.

Salah satu yang menjadi unsur penting dalam Seni Hias Islam adalah Kaligrafi Islam (Kaligrafi Arab). Kaligrafi Indonesia sebagian besar terpengaruh dari Seni Kaligrafi Arab.

Benda-benda upacara yang ada di istana-istana, seperti belati, tombak, pedang, dan panji-panji biasanya dihiasi dengan kaligrafi. Selain itu, hiasan kaligrafi juga nampak pada lukisan kaca dan ukiran kayu pada dinding istana. Tokoh wayang juga ada yang dihiasi oleh ragam hias kaligrafi untuk menyamarkan bentuk manusianya.

Periode Seni Visual Indonesia Modern

Seni visual Modern dapat dikatakan sebagai seni visual pembaharuan dengan hasil kreativitas sebagai upaya menciptakan karya baru yang didalamnya meliputi estetika, karakter, inovasi, dan originalitas. Terdapat beberapa periode perkembangan untuk seni visual modern di Indonesia.

Periode Perintis (1826-1880)

Dimulai oleh pelukis Raden Saleh yang merintis kelahiran seni visual modern berbekal pengalaman belajar melukis di luar negeri seperti di Belanda, Jerman dan Perancis. Sebagian besar karyanya memiliki corak romantis dan naturalis.

Periode Indonesia Jelita/Indie Mooi (1878-1900an)

Periode ini sebagian besar pelukisnya menggambarkan kemolekan dan keindahan objek alam. Ini adalah lanjutan dari periode perintis yang sempat hilang sepeninggalan Raden Saleh.

Dalam periode ini muncul seniman Abdullah Surio Subroto dan diwarisi oleh anak-anaknya, Sujono Abdullah, Basuki Abdullah dan Trijoto Abdullah. Pelukis-pelukis Indonesia yang lain diantaranya yakni Pirngadi, Henk Ngantung, Suyono, Suharyo, Wakidi, dll.

Periode Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia)

Periode masa pergolakan dan perjuangan Indonesia untuk memperoleh hak yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Pergolakan terjadi di segala bidang tidak terkecuali bidang kesenian. Dalam periode ini ada nama pelukis S. Sudjojono sebagai pelopor berdirinya PERSAGI. Persagi bertujuan untuk mengembangkan seni lukis di Indonesia dengan menggunakan corak Indonesia asli.

Sejarah Seni Visual di Indonesia

Periode Pendudukan Jepang

Kegiatan melukis pada periode ini dilakukan dalam kelompok Keimin Bunka Shidoso. Bertujuan untuk propaganda pembentukan kekaisaran Asia Timur Raya. Kelompok ini didirikan oleh tentara Dai Nippon dan diawasi oleh para seniman Indonesia, Agus Jayasuminta, Otto Jaya, Subanto, Trubus, Henk Ngantung, dll.

Untuk kelompok asli Indonesia berdiri kelompok PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat), tokoh-tokoh yang mendirikan kelompok ini adalah tokoh empat serangkai yaitu Ir. Sukarno, Moh. Hatta, KH. Dewantara dan KH. Mas Mansyur.

Khusus yang menangani bidang seni lukis adalah S. Sudjojono dan Affandi. Pelukis yang ikut bergabung dalam PUTRA adalah Hendra Gunawan, Sudarso, Barli, Wahdi, dll. Pada masa ini para seniman berkesempatan untuk melakukan pameran, misalnya pameran karya dari Basuki Abdullah, Affandi, Nyoman Ngedon, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, Otto Jaya, dll.

Periode Akademi (1950)

Pengembangan seni visual melalui pendidikan formal. Lembaga pendidikan yang bernama ASRI yang berdiri tahun 1948. Kemudian secara formal tahun 1950 lembaga tersebut mulai membuat rumusan-rumusan untuk melahirkan seniman-seniman dan calon guru gambar. Pada tahun 1959 di Bandung dibuka jurusan seni rupa ITB, selanjutnya dibuka jurusan seni rupa di semua IKIP di seluruh Indonesia.

Periode Seni Visual Baru

Pada sekitar tahun 1974 lahir kelompok baru dalam seni lukis. Kelompok ini menampilkan corak baru dalam seni lukis Indonesia yang membebaskan diri dari batasan-batasan yang sudah ada.

Konsep kelompok ini adalah tidak membedakan disiplin seni dan menghilangkan sikap seseorang dalam mengkhususkan pembuatan karya seni. Mereka mengharapkan kreatifitas baru dan membebaskan diri dari batasan-batasan yang sudah ada serta lebih eksperimental.

Seiring perkembangannya, seperti kesenian yang lain, seni visual khususnya seni visual Indonesia tetap hidup dan berkembang sesuai dengan dinamikanya sendiri. Seni visual bermanfaat sebagai sarana kreatifitas dan komunikasi, dan sampai saat ini peranannya telah merasuk ke dalam berbagai segi kehidupan manusia.

Read Full Article

Melukis Spanduk Pecel Lele Khas Lamongan

Melukis Spanduk Pecel Lele Khas Lamongan – Sebuah rumah kecil berukuran sekitar 7×3 meter di kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi dipenuhi warna-warni cat dan coretan tinta di dinding. Tercium juga aroma bahan kimia yang berasal dari cat-cat yang digunakan Hartono untuk melakukan pekerjaannya, melukis spanduk pecel lele khas Lamongan. Pria berumur 49 tahun itu sudah sejak 2005 pindah ke Bekasi.

Dari rumah kecilnya inilah, ia dapat menyalurkan bakat seni lukis yang ia miliki dan menjualnya hampir ke seluruh wilayah di Indonesia. “Semua wilayah di Indonesia sudah masuk, dari Aceh sampai Papua,” ujar Hartono. Sembari melukis tak lupa ia menghisap rokok, Hartono menceritakan awal mula ia menekuni bisnis pembuatan spanduk pecel lele ini. gaple online

Melukis Spanduk Pecel Lele Khas Lamongan

Pada 1992, ia datang ke Jakarta, tepatnya di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Di sana, ia membantu saudaranya yang berdagang pecel lele, hingga akhirnya tahun 1997 ia memilih untuk berjualan sendiri. Saat itulah, ia membutuhkan spanduk untuk dipasang di tenda warungnya yang ia dirikan di kawasan Sawangan, Depok. www.benchwarmerscoffee.com

Terpikir olehnya untuk meminta bantuan teman SMP di Lamongan untuk melukiskan spanduk pecel lele. Teman Hartono, Teguh Wahono, telah lebih dulu menekuni profesi sebagai pembuat spanduk pecel lele. Berharap permintaannya dipenuhi, ternyata Teguh tak mau membuatkannya. Alasannya, Teguh yakin Hartono bisa membuatnya sendiri.

Usut punya usut, rupanya Hartono dan Teguh Wahono adalah jawara melukis saat masih bersekolah di Desa Ngayung, Maduran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Bahkan, saat SMA keduanya justru bersaing karena setelah SMP mereka berbeda sekolah. Keduanya bertemu dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat kecamatan bahkan tingkat kabupaten se-Lamongan.

Beruntung bagi Hartono, ia berhasil merebut juara sementara Teguh berada di urutan kedua. Bakat melukis dan prestasi yang diraih Hartono inilah yang kemudian membuat Teguh enggan memenuhi permintaan Hartono untuk melukiskan spanduk pecel lele.

Walaupun hasilnya kurang memuaskan, setidaknya spanduk itu cukup untuk menjadi penutup dan penghias warung pecel lelenya. Ternyata hasil yang dianggapnya kurang itu justru dinilai berbeda oleh rekannya yang kemudian tertarik untuk meminta Hartono membuat spanduk warung makannya. Setelah itu, pesanan melukis di spanduk terus datang. Namun, Hartono tetap berjualan pecel lele. Proses melukis ia lakukan saat waktu senggang.

Hartono saat itu belum memantapkan dirinya menjadi pelukis spanduk pecel lele karena merasa belum mencapai target yang ia harapkan. Ya, Hartono memasang target 700 pesanan spanduk pecel lele untuk dapat fokus menjadi pebisnis spanduk pecel lele. 14 tahun berlalu, akhirnya target itu tercapai. Suami dari Sriningsih ini memutuskan untuk ‘gantung wajan’ dan berfokus berjualan spanduk pecel lele. Rata-rata spanduk bisa tahan satu sampai dua tahun, supaya setiap hari terus produksi, setidaknya ia harus memiliki 700 pelanggan. Ketika dapat pelanggan sebanyak itu, ia akhirnya berhenti berjualan pecel.

Faktor lain yang membuat Hartono ‘gantung wajan’ adalah bosan ‘kucing-kucingan’ dengan Satpol PP ataupun preman yang membuatnya berpindah-pindah tempat lokasi berjualan. “Kalau melukis spanduk kan bisa di mana aja, tidak ada pungli juga kan,” kata Hartono sambil tertawa. Pemilihan warna untuk spanduk pecel lele tersebut selalu ia buat dengan warna-warna yang mencolok. Biasanya warna mencolok yang digunakan tersebut seperti warna stabilo mulai dari kuning, oranye hingga hijau.

Bukan tanpa alasan, ternyata pemilihan warna tersebut memiliki maksud tersendiri. “Ya supaya bisa menjadi daya tarik pembeli yang lewat apalagi pas malam hari. Kalau kita pakai warna-warna yang tidak mencolok nanti gak kelihatan terang pas malam,” ungkapnya. Untuk membuat sebuah spanduk lukisan pecel lele khas Lamongan yang mencolok dan mampu menarik perhatian, Hartono menambahkan kain berwarna hijau “stabilo” di tepian kain putih yang telah ia lukis.

Hartono mengaku harga spanduknya sesuai dengan harga pasar, maksudnya ia tak mau membanderol spanduknya di bawah ataupun di atas harga pasar. Katanya, “Pengrajin spanduk ini jumlahnya bisa dihitung, tidak ada istilahnya kami bersaing .” Harga yang dibanderolnya sekitar Rp120 ribu hingga Rp145 ribu, bergantung dari ukuran, dan jumlah hewan yang digambarnya.

Biasanya, lanjutnya, satu warung memesan spanduk sepanjang 10 meter, yang terdiri dari lima meter untuk bagian depan dan 2,5 meter masing-masing untuk sisi kanan dan kiri warung. Harga paling mahal biasanya ada pada spanduk warung makanan khas Lamongan yang menyediakan beragam masakan laut. “Karena hewannya yang digambar kan lebih banyak, jadi lebih mahal,” kata Hartono.

Kurang lebih ia memerlukan modal Rp30 ribu untuk membeli kain katun tetoron, cat sablon dan penguat cat yang disebut binder. Dengan begitu ia meraup untung sekitar Rp90 ribu per meter. Hartono pun per bulannya bisa mendapat pesanan spanduk sepanjang 280 meter dan mengantongi hingga Rp25 juta per bulan.

Seiring pengalaman dan ilmu-ilmu yang terus dipelajari Hartono, ia memproduksi spanduknya dengan dua langkah yaitu, teknik sablon untuk mencetak huruf dan lukis untuk gambar binatang. Ia mengaku membutuhkan orang lain untuk melukis, namun sampai saat ini tak ada yang mau dan bisa melukis gambar seperti apa yang dilakoni si Hartono ini. Bahkan, dua putrinya tak ada yang memiliki bakat melukis seperti Hartono. “Ya memang harus ada yang bantu melukis, tapi ya pertanyaannya bisa enggak yang bantuin ini melukis seperti ini,” tambahnya.

Menurut Hartono, dunia seni itu intinya jangan merasa takut salah, apalagi jika belum mencobanya. Imajinasi memang diperlukan dalam dunia seni, namun kalau tak berani divisualisasikan akan percuma. “Belajar seni mengalir saja, sama seperti bernyanyi, kalau sudah ada bakat ya tinggal dikembangkan saja,” katanya.

Hartono pun harus menggunakan teknologi sebagai cara mempromosikan jasanya. Ia mengaku secara otodidak belajar membuat blog dan apa saja yang perlu ia tampilkan di blog. Cara ini pun berhasil membuat namanya semakin dikenal hingga luar Jawa.

Melukis Spanduk Pecel Lele Khas Lamongan

Menjaga komunikasi dengan pelanggan juga dilakukan oleh Hartono, baik selama pesanan diproses sampai setelah barang diterima. Hartono selalu memberi masukan-masukan kepada pemesannya, mulai dari warna spanduk, ukuran bahkan cara memasang dengan benar. Hartono bahkan pernah memberikan saran kepada pemesannya agar warung makannya laris.

Saat itu Hartono meminta pemesannya menambah jumlah ayam atau lele dan memberikan resep sambal yang bisa membuat para pelanggan ingin kembali lagi ke warung tersebut. Hartono berharap ada generasi yang bisa menjadi penerus untuk pembuat spanduk pecel lele ini. Pasalnya, spanduk merupakan salah satu kunci pemikat orang untuk datang ke warung pecel lele.

Spanduk adalah identitas dari setiap warung pecel lele khas Lamongan. Hartono menyebut saat orang Lamongan merantau dan memilih berjualan pecel, dia ingin menggunakan spanduk yang sama seperti di kampungnya. Seperti Hartono sendiri saat ia mengawali karirnya.

Selain daya tarik, spanduk juga menjadi penanda profesionalitas si pemilik warung, kata Hartono. “Kami buat spanduk itu betul-betul supaya orang mau masuk ke dalam warung. Tapi kalau misalnya orang itu buka warung spanduknya tak menggunakan ciri khas lamongan pasti orang berpikir ia hanya usaha main-main, jadi belum profesional katanya,” papar Hartono. “Padahal ada pemain baru tapi dia pakai spanduk seperti ini ya orang jadi berpikir pasti dia sudah profesional dalam berjualan pecel lele,” tambahnya.

Read Full Article

Pengertian, Jenis, dan Unsur Seni Visual

Pengertian, Jenis, dan Unsur Seni Visual – Berbicara tentang seni memang tak akan ada habisnya. Karena, seni adalah salah satu wujud ekspresi dari seseorang yang dituangkan ke dalam bentuk imajinasi. Dimana didalamnya mengandung unsur cerita, keindahan, dan curahan hati dari si pembuat karya seni itu.

Biasanya yang dapat menikmati karya seni adalah mereka yang dapat mendalami makna dari sentuhan artistik yang ditampilkan dari sebuah hasil karya seni tersebut. daftar slot

Pengertian, Jenis, dan Unsur Seni Visual

Pengertian Seni Visual

Dalam bahasa Inggris, seni visual disebut visual arts yang artinya “seni yang terlihat”. Walaupun semua jenis seni sebenarnya dapat dilihat secara visual (contohnya, seni tari juga dapat terlihat oleh mata), namun arti kata visual arts tetap merujuk pada seni yang menampilkan bentuk atau rupa. https://www.benchwarmerscoffee.com/

Seni visual adalah salah satu cabang dari kesenian yang menciptakan suatu karya seni dengan menggunakan media yang dapat ditangkap secara kasat mata serta dapat dirasakan atau di sentuh menggunakan indera peraba.

Jadi, berdasarkan pengertian seni visual diatas, seseorang yang menciptakan sebuah karya seni akan menuangkan segala bentuk ekspresi, keindahan, serta kecintaan yang dituangkan dalam suatu media yang dapat dilihat secara langsung dengan mata dan dapat disentuh secara nyata.

Misalnya, sebuah hasil karya lukisan seorang pelukis yang menuangkan dan mengekspresikan segala macam bentuk imajinasinya ke dalam sebuah lukisan yang indah dengan memadukan warna artistik yang sangat menakjubkan.

Maka tak heran karena segala keindahan yang diciptakan dari karya seni itu dapat membuat orang yang melihatnya terhanyut ke dalam hasil karya seni itu. Hal ini berarti bahwa seni visual mampu membuat orang merasa terhibur dengan hanya melihatnya secara langsung.

Jenis-Jenis Seni Visual

Seni visual adalah salah satu cabang seni yang memiliki banyak jenis. Ini terbagi mulai dari waktu, atau masa serta fungsi dari seni visual tersebut. Berikut penjelasannya.

1. Berdasarkan Waktu atau Masa

Berdasarkan waktunya karya seni visual dibagi menjadi tiga seni yaitu seni visual tradisional, seni visual modern, dan seni visual kontemporer.

Seni Visual Tradisional

Seni visual zaman dahulu atau yang sering disebut seni visual tradisional merupakan suatu karya seni yang memiliki aturan tetap dan juga mempunyai sifat statis yang mengindikasikan bahwa hasil karya seni itu tidak mengalami segala bentuk perubahan baik dari gaya maupun bentuknya.

Dalam seni visual tradisional, aspek-aspek yang terkandung didalamnya sangatlah dijaga secara turun menurun dari generasi ke generasi berikutnya.

Seni Visual Modern

Karya dari seni visual modern merupakan sebuah hasil dari karya seni yang telah mengalami pembaharuan dari karya seni tradisional. Dimana hasil dari pembaharuan tersebut meliputi aturan ataupun pola yang telah diubah serta mengandalkan tangan yang kreatif dari si pencipta karya seni yang bersifat individu tersebut.

Contohnya adalah seni kriya, patung, seni grafis, dan lain sebagainya.

Seni Visual Kontemporer

Seni visual kontemporer adalah suatu karya seni yang muncul akibat dari suatu trend atau suatu kondisi waktu yang sangat tidak terpikirkan dan bersifat kekinian.

2. Berdasarkan Ukuran atau Dimensi

Jenis karya seni visual berdasarkan ukurannya atau dimensinya di bagi menjadi 2 yaitu karya seni 2 dimensi dan 3 dimensi.

Karya Seni Visual 2 Dimensi

Karya seni visual 2 dimensi atau yang biasa disebut dengan dwimatra adalah salah satu hasil karya seni yang hanya terbentuk dari 2 macam unsur saja, yaitu panjang dan lebar. Karya seni jenis ini hanya dapat di lihat bentuknya secara jelas dari arah tertentu.

Contohnya seperti: lukisan, seni ilustrasi, kain tenun, sketsa, kain batik, dan lain sebagainya.

Karya Seni Visual 3 Dimensi

Merupakan sebuah karya seni yang memiliki 3 unsur pembentuk utamanya, yaitu panjang, lebar dan tinggi. Ketiga unsur tersebut akan membentuk suatu ruang, bentuk, dan volume. Dimana menjadikan karya seni ini dapat dilihat dari berbagai arah. Contohnya seperti: hasil kerajinan kriya, bonsai, patung, dan lain sebagainya

3. Berdasarkan Fungsi

Berdasarkan fungsinya karya seni visual dibagi menjadi 2 kelompok yakni karya seni visual murni dan seni visual terapan.

Seni Visual Murni

Karya seni visual murni adalah salah satu bentuk dari seni yang dibuat untuk dinikmati nilai-nilai estetiknya saja. Jadi karya seni visual ini tidak dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya seperti lukisan, poster, patung, dan lain sebagainya.

Seni Visual Terapan

Karya seni visual terapan merupakan salah satu karya seni yang meninggikan fungsi gunanya dibandingkan dengan fungsi estetikanya. Jadi, karya seni visual ini dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya seperti kursi, gelas, meja, dan lain sebagainya.

Unsur-Unsur Seni Visual

Berikut ini adalah unsur-unsur dari seni visual.

Titik

Adalah salah satu unsur yang terkecil dan merupakan suatu dasar dari berbagai ide karya seni yang akan di ciptakan. Untuk membuat unsur titik ini dapat dilakukan dengan variasi jarak yang beragam antara yang satu dengan yang lainnya. Dimana bisa berjarak sempit, lebar, dan sebagainya.

Titik yang diciptakan juga bisa dipadukan dengan berbagai variasi warna. Dan hasil dari kombinasi tersebut akan menghasilkan suatu karya seni yang apik dan bagus. Teknik tersebut dikenal sebagai teknik pointilisme.

Garis

Garis merupakan salah satu unsur penggabung dari sebuah titik. Setiap garis yang di torehkan mempunyai arti bahwa sebuah watak dan ciri khas seperti keras, lentur, kaku, dan sebagainya dapat dijelaskan dengan baik hanya berdasar pada hasil karya seni itu.

Garis yang dibentuk biasanya memiliki banyak jenisnya seperti lurus, panjang, pendek, vertikal, horizontal, dan lain sebagainya. Selain itu, garis juga mempunyai wujud seperti garis nyata maupun garis semu.

Bidang

Bidang adalah salah satu bentuk pengembangan dari berbagai garis dimana bila di satukan akan membentuk beberapa sisi dari hasi karya seni visual tersebut. Bidang dalam seni visual ini memiliki sisi panjang maupun lebar dengan beragam ukuran.

Selain itu, berdasar dari bentuknya bidang dibagi atas bidang geometris dan bidang biomorfis. Yang memiliki sifat tak beraturan dan organis. Juga mempunyai unsur lebar seperti unsur isi dan volume.

Bentuk

Dengan adanya bentuk maka karya seni yang dihasilkan akan menjadi lebih hidup. Hal ini disebabkan karena adanya torehan dan detail yang sempurna sehingga karya seni yang dihasilkan sangat indah.

Ruang

Ruang merupakan salah satu unsur yang memiliki dua sifat yakni nyata dan semu. Kedua sifat yang dimilikinya jelas mempunyai hasil yang berbeda entah itu dua dimensi atau tiga dimensi.

Pengertian, Jenis, dan Unsur Seni Visual

Warna

Dalam seni visual, warna adalah salah satu unsur yang berperan penting karena bisa membuat hasil karya seni lebih indah. Perpaduan warna pada sebuah karya seni biasanya relatif dan tergantung pada si pencipta karya seni tersebut.

Dengan adanya kombinasi warna maka akan memberikan gambaran nyata dari hasil karya seninya. Karena suasana hati seperti sedang sedih atau senang akan ikut terbaca hanya dengan melihat hasil karya seni tersebut.

Tekstur

Tekstur merupakan sifat atau kondisi yang dimiliki pada sebuah hasil karya seni. Biasanya tekstur dibedakan menjadi 2 yakni tekstur semu dan tekstur nyata. Tekstur semu adalah tekstur yang memiliki kesan tak sama antara bagian penglihatannya dan indera perabanya.

Sementara tekstur nyata adalah tekstur yang dihasilkan oleh sebuah karya seni dimana antara indera penglihatan dan indera perabanya merasakan adanya kesamaan.

Gelap Terang

Dengan adanya unsur gelap terang dalam suatu karya seni dapat menjadikan hasil dari karya seni yang diciptakan terlihat lebih nyata. Hal ini disebabkan karena dalam proses pengerjaan karya seni tersebut sangat memperhatikan detail intensitas cahaya dari sebuah objek yang menjadi patokan sebuah karya seni visual.

Read Full Article